Kamis, 12 Januari 2012

trikaya dan satya ( saramuccaya)

ada baiknya dibaca kutipan fafsiran sloka-sloka bab Trikaya dan Satya (termasuk bab Bodoh) dalam Saramuccaya berikut.
 
Bab Trikaya : Sloka 73: Adalah karmaphala namanya, yaitu pengendalian hawa nafsu, sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. Perinciannya, gerak pikiran tiga banyaknya; perilaku perkataan empat jumlahnya; gerak tindakan tiga banyaknya : jadi sepuluh banyaknya, perbuatan yang timbul dari gerakan badan, perkataan dan pikiran; itulah patut diperhatikan

Sloka 75: Inilah yang tidak patut timbul dari kata-kata, empat banyaknya yaitu : (a). Perkataan jahat, (b). Perkataan kasar menghardik, (c). Perkataan memfitnah, (d). Perkataan bohong (tak dapat dipercaya); Itulah keempatnya harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir-pikir akan diucapkan

Sloka 77: Sebab yang membuat orang dikenal adalah perbuatannya, pikirannya, ucapan-ucapanya; hal inilah yang sangat menarik perhatian orang, untuk mengetahui kepribadian seseorang; oleh karena itu hendaklah yang baik itu selalu dibiasakan dalam laksana/perbuatan, perkataan dan pikiran.

Sloka 78: Dikatakan amat sukar untuk menerapkan sifat guna (satwa) dalam perbuatan, perkataan, dan pikiran,; meskipun hal itu merupakan kesulitan yang amat besar, seyogianya janganlah hal itu dianggap penghalang merupakan kesulitan (harus terus berusaha sampai berhasil).

Bab Satya (Kebenaran): Sloka 125: Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta; Di sinilah, di badan sendirilah tempatnya; keterangannya, jika orang itu bodoh (lihat bab Bodoh pada Sloka 399-404) senang hatinya kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya; sebaliknya kokoh berpegang kepada kebenaran, tidak goyah hatinya bersandar kepada dharma, maka martalah diperolehnya

Sloka 131: Adalah orang yang berkata, yang mengakibatkan kesedihan orang lain, entahlah menyanggupi atas selesainya kerja orang lain, akan tetapi ternyata ia berbohong: Orang yang demikian perilakunya tidak takut akan kawan neraka; Bukanlah ia berbuat celaka bagi dirinya sendiri, sekalipun orang lain sebenarnya yang mengalami malapetaka itu; Singkatnya, janganlah mengucapkan perkataan yang demikian itu

Sloka 132: Adapun kata-kata yang patut diucapkan, ialah kata-kata yang mengandung kebenaran; jangan yang berupa penusuk hati, jangan yang merupakan umpatan, hendaklah kata-kata yang bermanfaat; Janganlah kata-kata yang kasar, jangan kata-kata yang terpengaruhi kemarahan, jangan kata-kata fitnahan; Demikianlah misalnya kata-kata yang tidak patut dikeluarkan

Sloka 134: Pada hakikatnya adalah demikian ini; Bukan perkataan yang tidak benar, bohong namanya, dan bukan perkataan yang benar itu, disebut kebenaran, melainkan sesungguhnya, biarpun bohong kata-kata itu namun selalu menimbulkan kebaikan saja, membuat akibat yang menyenangkan kepada semua makhluk hidup, itulah kebenaran disebut: Meskipun sesuai dengan apa yang terjadi jika tidak mendatangkan akibat yang menyenangkan kepada semua makhluk hidup, dusta disebut itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar